Syahadat merupakan rukun islam pertama yang wajib dilakukan oleh seorang muslim. Tidak ada waktu atau ritual khusus yang mengatur pengucapan ikrar ketauhidan tersebut sehingga banyak orang islam yang terlahir sebagai pemeluk agama islam lupa kapan dan bagaimana situasi bathin pada saat melakukan ikrar ketauhidan tersebut. Bagi umat islam yang sebelumnya memeluk agama lain, pengucapan syahadat pada umumnya dilakukan pada acara khusus dibimbing seorang Ulama/Ustadz yang diawali dengan penjelasan yang bersangkutan tentang proses pencarian yang terjadi sampai munculnya keyakinan untuk menjadi muslim dengan mengikrarkan ALLAH sebagai satu-satunya Tuhan yang patut disembah dan Muhammad sebagai utusan ALLAH. Yang perlu dicermati pada saat pengucapan (ikrar) syahadat dari contoh diatas bukan ada/tidaknya ritual pada saat melaksanakan rukun islam pertama melainkan bagaimana kualitas ilmu dan keyakinan (tauhid qauli wal amali) pada saat mengESAkan ALLAH. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan karena akan mempengaruhi kualitas ibadah dan amal (tauhid qashi amali).

Dalam perjalanan waktu, daya tarik kenikmatan dunia akan mempengaruhi pasang surutnya keyakinan seorang muslim terhadap keESAan ALLAH terlebih lagi apabila tidak bertambahnya ilmu tentang ALLAH sebagai pencipta, pemberi rezeki dan pengatur (tauhid Rububiyah) serta nama-namaNya yang baik serta sifat-sifatNya yang tinggi (tauhid asma dan sifat). Oleh karenanya, perlu diupayakan secara sadar dan terus menerus untuk selalu memperbaharui ikrar ketauhdian melalui dzikir.

Dzikir dalam pengertian sempit maupun luas merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk lebih memantapkan dan meningkatkan kualitas ketauhidan. Kata dzikir secara etimologi adalah bentuk turunan dari kata dzakara yang berarti keadaan tidak diam dan tidak lupa atau mengingat, menyebut atau menghadirkan rekaman memori yang tersimpan dalam ingatan. Kata dzikir secara terminologi adalah mengingat ALLAH dalam bentuk mengucapkan lafadz-lafadz yang disyariatkan kepadaNYA (dzikir lisan), menghabiskan waktu dalam ketaatan dan menjauhi segala larangan (dzikir perbuatan) sebagai manifesitasi dari merenungi keagungan dan sifat-sifat ALLAH (dzikir hati).

Ayat ayat Al-qur’an tentang dzikir menurut Syaikh Muhammad Zakariyya Rah.a1) adalah, (1) Al-Baqarah ayat 152, 198, 200-202, 203 (2) Ali Imran ayat 41, 191 (3) An-Nisaa’ ayat 103, 142 (4) Al-Maidah ayat 91 (5) Al-An’aam ayat 52 (6) Al-A’raaf ayat 29, 55-56, 180, 205 (7) Al-Anfaa ayat 2 (8) As-Ra’d ayat 27-28 (9) Al-Israa’ ayat 110 (10) Al-Kahfi ayat 24, 28, 100-101 (11) Maryam ayat 2-3, 48 (12) Thaa-haa ayat 14-15, 42 (13) Al-Anbiyaa’ ayat 76, 83, 87, 90 (14) Al-Hajj ayat 34-35 (15) Al-Mu’minuun ayat 109-111 (16) An-Nuur ayat 37 (17) Al-Alkabuut ayat 45 (18) As-Sajdah ayat 16-17 (19) Al-Ahzab ayat 21, 35, 41-42 (20) Ash-Shafaat ayat 75 (21) Az-Zumar ayat 22 (22) Al-Hadiid ayat 16 (22) Al-Mujaadlah ayat 19 (23) Al-Jumu’ah ayat 10 (24) Al-Munaafikquun ayat 9 (24) Al-Muzzamiil ayat 8, (25) Al-Insaan ayat 25-27 (26) Al-A’laa ayat 14-15.

Dzikir lisan yang selaras dengan pemahaman syariat terbagi dua2) yaitu dzikir ma’tsur (berdasarkan riwayat yang dzikir yang terdapat dalam nash yang bersumber pada Al-Qur’an dan sunnah baik yang pernah diucapkan atau diperintahkan oleh Nabi secara mutlak (tidak terikat waktu dan momen tertentu) atau karena sebab tertentu serta dzikir yang disusun oleh hamba. Dengan dzikir yang dilakukan secara terus menerus akan mendarangkan Cinta dan Ridho Allah selain memiliki fungsi pragmatis lainnya (1) Melebur dosa, (2) Melipatgandakan pahala, (3) Menolak bencana (4) Benteng kokoh dari gangguan syetan (5) Menyelamatkan dari siksa neraka (6) Mengantarkan ke syurga.

Manfaat dzikir setelah shalat akan memberikan kedamaian Jiwa (menyucikan hati, menjadi hamba bersyukur, menyadari kelemahan diri dan memurnikan keikhlasan) serta kesehatan raga (menumbuhkan semangat, mempertahankan produktifitas, menjaga stamina dan konsentrasi, menghilangkan stress dan menepis Insomnia3)

Footnote :

1) Syaikh Muhammad Zakariyya Rah.a ., Menyingkap rahasia-rahasia zikrullah., Citra Media., Oktober 2007

2) Abdurrahman Mahmud Khalifah., Dzikir bersama Nabi., Pustaka Al-Tazkia., Agustus 2007

3) Luqman Junaidi., The Power of wirid., h. 195-321., Mizan Media Utama., Jakarta., Desember 2007