Seorang petani dan istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan. Tiba-tiba lewat sebuah motor didepan mereka. Berkatalah petani kepada istrinya “Lihat Bu,betapa bahagianya suami istri yang naik motor itu meski mereka kehujanan tapi mereka bisa cepat sampai dirumah tidak seperti kita yg harus lelah berjalan untuk sampai kerumah.”

Sementara itu pengendara motor dan istrinya yg sedang berboncengan dibawah derasnya air hujan melihat sebuah mobil pick up lewat didepan mereka. Pengendara motor itu berkata kepada istrinya “Lihat Bu, betapa bahagianya orang yg naik mobil itu, mereka tidak perlu kehujanan seperti kita.”

Didalam mobil pick up yang dikendarai sepasang suami istri terjadi perbincangan ketika sebuah sedan Mercy lewat, “Lihatlah Bu,betapa bahagia oran g yg naik mobil bagus itu,pasti nyaman dikendarai tidak seperti mobil kita yang sering mogok.”
Pengendara mobil Mercy itu seorang pria kaya dan ketika dia melihat sepasang suami istri yang berjalan bergandengan tangan dibawah guyuran air hujan,  pria kaya itu berkata dalam hati “Betapa bahagianya suami istri itu, mereka dengan mesranya berjalan bergandengan tangan sambil menyusuri indahnya jalan di pedesaan ini sementara aku & istriku tidak pernah punya waktu untuk berduaan karena kesibukan masing-masing.”

Kebahagiaan takkan pernah kita miliki jika kita hanya melihat kebahagiaan milik orang lain dan selalu membandingkan hidup kita dengan hidup org lain.

(kiriman melalui bb dari Gathot Harsono- PSIKO10-EU tanggal 12 Februari 2011)