Setelah lulus dari pendidikan Strata-1 tahun 1982 saya langsung bekerja di sebuah perusahaan Kontraktor sebagai Kepala Bagian Pengendalian Biaya dengan gaji Rp 800.000,-/bulan. Berkunjung ke proyek yang berada di luar daerah merupakan tugas rutin yang harus dilakukan untuk melakukan verifikasi data.  Banyak orang mengatakan posisi ini adalah posisi yang ‘basah’ tapi bagi saya adalah sebuah ketidaknyamanan karena pertarungan antara hati dan akal. Mengapa ? Sebelum wafat, ayah pernah mengingatkan “Jangan pernah makan rezeki yang haram karena akan merusak diri dan anak keturunan”. Alhamdulillah, dalam pertarungan tersebut saya lebih memilih hati untuk mengarungi kehidupan ini. Saya keluar dari perusahaan tersebut dan menjadi Dosen Tetap di Universitas Islam Djakarta (UID) dengan gaji Rp 125.000,-/bulan untuk membuka jurusan Teknik Industri.

Sebagai salah seorang perintis pembukaan jurusan baru, saya harus melakukannya dengan penuh  tanggung jawab agar jurusan tersebut dapat tumbuh dan berkembang sehingga saya tetap harus berada di Kantor dari pukul 08.00-14.00 sejak hari Senin sampai Sabtu.  Posisi sebagai anak pertama laki dalam keluarga dengan 5 orang adik yang masih sekolah yang ditinggalkan ayah tanpa meninggalkan tabungan mengharuskan saya bekerja lebih keras sehingga selepas jam kantor saya  mengajar di beberapa Perguruan Tinggi.

Memasuki kehidupan keluarga tentu saja membuat kebutuhan menjadi meningkat sementara saya berusaha keras untuk tetap memegang teguh prinsip TIDAK AKAN MEMAKAN REZEKI HARAM/SUBHAT. Dalam kalkulasi logis, perjuangan mencari rezeki menjadi bertambah berat karena saya sulit sekali mengatakan ‘TIDAK ADA” sehingga berhutang kesana kamari merupakan alternatif yang sering dilakukan.

Seorang teman mengatakan “Dosen belum merupakan pilihan profesi yang bagus untuk kehidupan di Jakarta”, sehingga saya mulai merintis usaha Konsultan bersama beberapa teman PT NASCENDI PRIMA.  Sebagai pemain baru dalam dunia konsultan tentu saja membutuhkan perjuangan keras dan harus mengikuti aturan tidak tertulis yang terjadi dalam dunia usaha terutama bagi perusahaan baru yaitu ‘Pinjam Nama.  Proyek Pertama yang ditangani adalah sebuah studi disebuah instansi Pemerintah yang lolos karena mengikuti aturan tidak tertulis ‘Pinjam Nama’.  Setiap tahapan termin kami lalui dengan baik, namun ketika tahapan akhir muncul masalah karena ‘orang dalam’ instansi tersebut tidak dapat menunjukkan pekerjaan akhir kepada saya. Banyak orang memberi nasehat kalau saya harus mengikuti keadaan kalau mau sukses namun pertarungan antara hati dan akal terjadi begitu hebat. Alhamdulillah, saya lebih memilih hati dibanding akal sehingga usaha tersebut tidak saya teruskan.

Saya mulai mencoba menjadi tenaga ahli lepas di perusahaan Konsultan yang tentu saja ada penghasilan tambahan. Keadaan tersebut, tidak terjadi karena saya lebih memilih membawa istri, anak dan orang tua kalau sedang survey ke daerah sehingga seluruh pengahsilan tersebut habis. Mengapa saya lakukan hal tersebut ? Buat saya,  mempersiapkan masa depan anak bukan dengan menyiapkan ‘Rumah atau Deposito’ tapi dengan memberikan pengalaman yang banyak agar wawasan dan pengetahuan bertambah.

Setiap awal bulan bagi kebanyakan orang mulai membagi penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari dan menabung untuk masa depan. Hal tersebut tidak pernah terjadi dalam diriku karena semua penghasilan tersebut pasti dikeluarkan untuk membayar hutang  karena merupakan kewajiban yang tidak boleh dibawa pada saat meninggal dan untuk makan dan ongkos perjalanan selama satu bulan bahkan seringkali tidak cukup.

Perjalanan selama satu bulan tanpa uang tabungan tidak membuat saya harus menahan pengeluaran terutama kalau hal tersebut berasal dari keluarga dan anak.  Melunasi pinjaman dan membuat pinjaman baru sudah merupakan irama kehidupan yang saya jalani hingga saat ini.

Mengapa istriku Luar Biasa ? Sejak mulai berumah tangga sampai saya menuliskan pengalaman ini, Dia tidak pernah minta uang agar dapur kami ngebul apalagi minta uang untuk dirinya membeli pakaian, makan enak diluar rumah apalagi menabung. Istriku mengiklaskan diriku untuk HIDUP dengan PRINSIP  (1) Mencari Rezeki yang Halal (2) Membantu Orang Tua dan adik-adik sebagai sebuah kewajiban  (3) Mendidik anak dengan memberikan mereka ruang yang cukup untuk memilih dan menjadikan kesalahan sebagai sebuah pelajaran.