Banyak orang yang setuju bahwa salah satu kewajiban orang tua adalah mengarahkan anak untuk masa depannya. Yang setuju pada umumnya melandaskan pada asumsi bahwa orang tua lebih banyak pengalaman tentang kehidupan sehingga lebih banyak tahu dibanding anak-anak. Namun, implementasi dari tanggung jawab tersebut sering banyak perbedaan pendapat dimulai dari titik melakukan pilihan. Banyak yang berpendapat, mengarahkan berarti dimulai dari menentukan pilihan yang harus dilakukan anak, namun tidak sedikit orang tua yang justru mengartikannya memberikan pengawasan dan pendampingan terhadap pilihan bebas yang dilakukan oleh anak.

Untuk membesarkan anak, dalam banyak kasus saya lebih memilih yang kedua karena anak harus belajar untuk membuat pilihan-pilihan, menerima resiko atas pilihannya dan pada akhirnya menemukan pilihan yang baik/diterima untuk dirinya.

1.       Cara Menggunakan Uang

Ketika anak pertama (ANDHITIA) kuliah di UNPAD pada tahun 1994, saya memberikan sejumlah uang bulanan yang akan digunakan untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan kuliah dan sebuah HP pasca bayar.  Akhir bulan pertama di Bandung, tagihan langganan HP yang harus dibayar kurang lebih Rp 1,1 juta dan tanpa menunjukkan emosi marah dan menunjuk kesalahan anak saya bayar biaya tersebut. Akhir bulan kedua, tagihan kedua tagihan langganan  HP justru menjadi Rp 1,2 juta dan tanpa menunjukkan emosi marah dan menunjuk kesalahan anak saya bayar biaya tersebut. Pada bulan ketiga, pada saat keadaan santai sayan bercerita tentang pilihan karir dan gaji saya sebagai Dosen tanpa mengarahkan pembicaraan kepada bayar langganan HP yang sangat mahal. Pada bulan ketiga dan seterusnya tagihan langganan HP menjadi sangat kecil. Pada bulan ketiga Andhitia telah membuat pilihan “cara menggunakan HP yang tepat dengan mengganti sendiri (tanpa disuruh) dengan pulsa pra bayar “. Dua bulan, Andhitia telah merasakan sendiri konsekuensi dari sebuah pilihan “cara memanfaatkan HP” yang memberikan resiko kepada orang tuanya.  Beberapa bulan kemudian tanpa keraguan sedikitpun, saya percayakan  ATM dari rekening Gaji sebagai Dosen PNS kepada Andhitia untuk dipakai guna memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kuliah.

Cerita yang sama berulang ketika anak kedua sekolah di SMA Muthahari Bandung. Uang bulanan yang diberikan pada bulan pertama dan kedua tidak cukup karena biaya pulsa langganan HP yang melebihi uang bulanan yang diberikan. Dengan sikap yang sama, akhirnya Andhika Febrianto tahu cara yang benar dalam menggunakan HP dan yang lebih utama adalah cara menggunakan uang.

Kejadian berulang terjadi pada anak kedua, saya yakini bukan dia mengambil contoh dari cerita kakaknya tapi saya tahu karena ketika kedua anak saya sekolah/kuliah diluar kota, keduanya punya pacar yang ada di Jakarta.

Untuk direnungkan dan dikaji :

Pada saat usia muda (siswa SMA atau mahasiswa) berpisah dengan pacar atau teman dekat adalah sebuah perjuangan yang sangat berat. Pada saat kondisi emosi seperti itu, mungkinkah tepat bagi orang tua untuk marah atau berdiskusi yang ujungnya meminta anak menghemat pengeluaran ? Menurut saya sangat tidak tepat karena anak perlu waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan dan orang tua harus menghadapi segala macam konsekuensi untuk membuat anak nyaman dengan lingkungan baru sekalipun saya harus berhutang untuk menutupi kekurangan biaya tersebut (catatan : untuk diketahui bahwa sejak pertama kali menikah sampai saat ini, saya tidak pernah kelebihan uang penghasilan untuk ditabung. Catatan ini untuk menjelaskan bahwa kondisi keuangan tidak boleh menjadi kendala dalam menjalankan prinsip, tentu saja kondisi keuangan yang dapat diperhitungkan)

2.       Memilih bidang pendidikan, Sekolah dan Perguruan Tinggi

Lulus dari SMA Muthahari, anak kedua saya (ANDHIKA) bersama beberapa temannya termasuk pacarnya memilih kuliah di Jurusan Teknik Informatika di UBINUS. Tanpa keraguan sedikitpun, kami merestui pilihan tersebut walaupun (a) saya melihat adanya karakteristik/ ciri yang tidak sesuai dengan tuntutan sebagai pekerja dibidang Kompuuer (b) saya harus pinjam uang untuk mencicil uang pangkal yang sangat mahal. Akhir semester pertama, dilalui dengan IP diatas rata-rata namun menjelang akhir semester kedua sekitar bulan Mei 2010, DHIKA datang menemui saya menyatakan ingin berhenti kuliah dari BINUS dan jawaban spontan saya adalah “kalau itu adalah pilihan DHIKA, silakan saja karena Dhika harus melakukan sesuatu dengan senang dan kalau kuliah di Teknik Informatika tidak membuat Dhika senang, berhenti saja”. Sebuah keputusan yang mengundang kontroversi istri, orang tuan dan keluarga dengan berbagai macam argumentasinya. Sikap saya ditambah beberapa sikap lain menghadapi persoalan Dhika yang lain membuat geram istri sehingga saya diminta untuk mengikuti Pelatihan Pengasuhan Anak ditempat istri saya melakukan kegiatan pengabdiannya.

Proses berlalu dan akhirnya pada bulan Mei 2010, Dhika memilih untuk kuliah di program studi Ilmu Komunikasi di Universitas Esa Unggul tempat saya bekerja dan satu semester telah dilaluinya. Pada tanggal 23 Februari 2011 tepat pada hari ulang tahunnya, Dhika datang keruangan kantor dan setelah bertegur sapa, saya bertanya “ada apa datang ke kampus? Dhika menjawab “enggak ada apa-apa pingin jalan saja”. Lalu dhika bicara “Pa, Dhika enggak apa-apa kan begini saja yang penting Dhika senang”. Seolah ingin minta kepastian terhadap prinisip saya dengan spontan saya jawab “Yang penting Dhika Senang”

Untuk direnungkan dan dikaji :

Siapa yang paling berhak mewakili hati dan pikiran anak dalam menjalani hidup ini dan dimasa yang akan datang ? Ketika anak menyatakan pilihannya yang tentu saja tidak melanggar norma-norma masyarakat dan agama bukankah tugas orang tua hanya memfasilitasi dan menciptakan lingkungan agar pilihan  anak tersebut dapat berjalan sesuai dengan rencananya. Bagaimana dengan masa depan anak ? ha ha coba tunjukkan orang  yang sukses  di masa adalah orang yang kuliahnya lancar dengan IPK bagus. Jangan mengumbar ketakutan kita sebagai orang tua terhadap masa depan anak dengan membuat anak menjalani kehidupannya sekarang dengan perasaan tidak senang. Bukankah kita akan bahagia kalau melihat anak senang ?