SIKAP MAHASISWA TERHADAP KUMPUL KEBO

Aziz Luthfi
Felicia Audrey Happy
Universitas Esa Unggul
Aziz.luthfi[at]esaunggul.ac.id

Abstrak

Kumpul Kebo atau Samen Leven merupakan fenomena sosial yang ada ditengah masyarakat Indonesia tidak terkecuali mahasiswa sebagai kaum muda penerus kehidupan bangsa

Penlitian awal pada bulan November 2009-Januari 2010 yang melibatkan 98 mahasiswa UniversitasEsa Unggul yang dipilih secara acak sebagai responden menunjukkan bahwa sikap responden yang mendukung dan tidak mendukung kumpul kebo mempunyai proporsi yang sama besar walupun berbeda secara siginifikan dalam komponen sikap yang menonjol bagi yang mendukung atau tidak mendukung.

Sikap mendukung dan tidak mendukung kumpul kebo tidak berbeda secara siginifikan ditinjau dari faktor kelamin responden namun berbeda secara siginifikan ditinjau dari tempat tinggal selama kuliah.

A.    LATAR BELAKANG

Salah satu masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat adalah “kumpul kebo” (samen leven; conjugal union; living in non-matrimonial union ; cohabitation) yang terkesan menjadi hal yang biasa dengan anggapan bahwa hal tersebut adalah bagian dari kehidupan modern (www.kunci.or.id). “Kumpul kebo” memiliki pengertian perbuatan tinggal bersama antara laki-laki dan perempuan tanpa diikat oleh suatu tali perkawinan yang sah (Hoffman, et al.,1994; Papalia, et al.,1998, Santrock, 1999 (dalam Dariyo 2003)).

Budaya hidup bersama tanpa ikatan pernikahan atau “kumpul kebo” sudah menjadi hal yang biasa dan dimaklumi secara kultural di negara-negara barat. Contoh yang sering terjadi adalah kisah para pemain sepak bola di Eropa yang hampir selalu hidup serumah dengan pacar-pacarnya kendati pun mereka belum menikah. Tidak jarang mereka baru menikah setelah memiliki anak. (www.psikologionline.com). Kehidupan “kumpul kebonya” menjadi berita di media dan mengganggap bahwa kehidupan “kumpul kebo” lazim dilakukan sebelum menikah. Meskipun demikian, kehidupan mereka tidak menimbulkan gaduh sosial karena kultur di negeri barat melazimkan kehidupan “kumpul kebo”. Di Negara Barat mereka yang melakukan “kumpul kebo” lebih didasarkan pada keinginan mencocokkan diri sebelum mereka benar-benar menikah. Bila pasangan tersebut merasa cocok mereka dapat melanjutkan ke jenjang pernikahan, tetapi bila tidak ada kecocokkan mereka dapat berpisah. Hal ini dapat dilakukan meskipun mereka sudah memiliki anak dari hasil hubungan tersebut.

Fenomena lain terjadi di Yogyakarta, berdasarkan penelitian 18 dari 29 pasang remaja di Yogyakarta tidur bersama 5-7 malam seminggu. Istilah “kumpul kebo” mendadak menjadi tenar sejak soal hidup bersama 29 pasangan pelajar, mahasiswa dan karyawan di Yogyakarta dijadikan penelitian. Mereka berpacaran tetapi derajatnya lebih tinggi dari berpacaran biasa. Tidak cuma makan bersama, mencuci bersama, rekreasi bersama, tetapi juga tidur bersama. Dari penelitian ini tersirat bahwa, kalau sudah tidur bersama sekian malam dalam seminggu, tidak dipungkiri mereka juga melakukan aktivitas seksual. Mereka sudah lama hidup bersama tanpa nikah, di antaranya bahkan telah memiliki beberapa anak. Menurut Camat setempat, sebab terjadinya hidup bersama tanpa nikah antara lain toleransi masyarakat sekitar. Mereka mengetahui hal tersebut tetapi menganggap “biasa”, sepanjang tidak menimbulkan gangguan yang merugikan orang lain. Biasanya mereka dari golongan ekonomi bawah dan pendatang.(www.kompas.com)

Fenomena ini (kumpul kebo) juga marak terjadi di kalangan selebriti. Model iklan dan pemain sinetron Steve Emmanuel dan pasangan “kumpul kebonya” Andi Soraya, yang secara terang-terangan mengakui telah “kumpul kebo” dan mempunyai seorang anak dari hasil perbuatannya tersebut (Majalah Gatra, Edisi 47, beredar Jum’at 03 Oktober 2003). Mereka mengungkapkan bahwa ini (“kumpul kebo”) merupakan ranah privasi yang berhubungan dengan Hak Asasi Manusia (HAM) yang tidak seharusnya diurusi oleh Negara. Mereka sudah sangat menikmati gaya hidup mereka sebagai pasangan yang hidup bersama tanpa pernikahan resmi. (www.kompascybermedia.com)

Mereka mengadopsi kehidupan “kumpul kebo” dari Kebudayaan Barat bahwa  “kumpul kebo” adalah hal yang biasa. Padahal seks sebelum menikah adalah hal yang tabu pada kultur Indonesia. Norma-norma Indonesia tidak menyediakan ruang bagi pasangan “kumpul kebo”. Oleh karena itu berita seseorang yang menjalani kehidupan “kumpul kebo” akan menjadi gaduh sosial. Namun norma yang menabukan “kumpul kebo” dan sanksi sosial yang mengancam pelakunya ternyata tidak cukup kuat untuk sekedar meminimalkan banyaknya pelaku “kumpul kebo”.

Fenomena “kumpul kebo” juga terjadi di lingkungan kampus, salah seorang warga yang bermukim di sekitar kampus tersebut pernah mengeluhkan praktek “kumpul kebo” yang dijalani sejumlah mahasiswa – mahasiswi di tempat kos mereka masing-masing yang berada disekitar kampus dan menjadi bagian dari pemukiman penduduk sipil. (http://www.suplentonkjaya.com). Hidup bersama tanpa menikah di tempat kos-kosan di kalangan mahasiswa kian marak terjadi. Mahasiswa yang melakukan “kumpul kebo” biasanya adalah mahasiswa pendatang atau mahasiswa yang berasal dari luar daerah. Mereka beralasan faktor keuangan menjadi pemicu mereka melakukan “kumpul kebo”. Demi menghemat pengeluaran uang untuk sewa kos dan dipengaruhi faktor lainnya, mereka memilih ‘tinggal bersama’ tanpa ikatan tali pernikahan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan seorang mahasiswa Universitas Indonusa Esa Unggul yang melakukan hidup “kumpul kebo”, seperti berikut” Gue milih tinggal sama pacar gue biar irit pengeluaran bayar uang kos, lagian ibu kosnya juga santai aja. Ada faktor lain juga sih yang bikin gw mau ngelakuin pilihan ini, kayaknya enjoy aja hidup serumah sama pacar gue soalnya dulu gue tuh suka banget nonton film beverly hills. Kayaknya enak banget ya bisa setiap hari ketemu pacar, bangun tidur ada pacar, mau tidur ada pacar juga. Daripada gue seks bebas gak jelas mending gue tetap dengan satu orang. Lagian sekalian uji coba sebelum gue nikah beneran, daripada nanti cerai mending dicoba dulu

Hasil wawancara yang lain dengan seorang mahasiswi Universitas Indonusa Esa Unggul yang melakukan hidup “kumpul kebo”, seperti beriktu “Gue melakukan hal kayak gini, karena gue terpaksa. Kebetulan gue dan pacar gue tuh beda agama, jadi ya mau gak mau deh. Daripada minta merried sama orang tua gak dibolehin. Mau pisah dan nyari cowok lain,gak mungkin banget. Segalanya udah gue korbanin buat dia, gw pasrah ajalah. Kalo nanti emang gak jodoh ya gak apa-apa.

Hasil wawancara pada mahasiswa Universitas Indonusa Esa Unggul yang menunjukkan sikap tidak setuju terhadap “kumpul kebo” adalah sebagai berikut Gue gak setuju banget tuh kalo ada orang yang sampai ngelakuin kumpul kebo. Kayak gitu tuh, gak sesuai banget sama kebudayaan kita. Apalagi kalo dilihat dari norma agama dan adat istiadat kita sebagai orang timur. Pokoknya gue menjauhlah dari perbuatan kayak gitu, jangan deh karena gak ada untungnya sama sekali”

Wawancara lain yang dilakukan pada mahasiswi yang menyatakan sikap tidak setuju terhadap “kumpul kebo” adalah sebagai berikut “ Apa sih untungnya “kumpul kebo” ?, apalagi gue sebagai cewek. Dimana-mana pasti nanti cewek yang dapat imbasnya. Pertama, pasti cewek di cap jelek di masyarakat, keluarga, teman-teman. Kedua, kalo nanti pisah, apa yang mau kita tuntut dari cowoknya?. Belum lagi kalo nanti ada anak, pasti susah banget ngurus akte lahir. Gak mau deh gue ikut-ikut hal kayak gitu”

B.  IDENTIFIKASI DAN RUMUSAN MASALAH

Sikap adalah kesiapan pada seseorang untuk bertindak secara tertentu terhadap hal-hal tertentu. Sikap ini dapat bersifat positif dan negatif. Dalam sikap  mendukung, kecenderungan bertindak adalah mendekati, menyenangi, mengharapkan obyek tertentu, sedangkan dalam sikap tidak mendukung terdapat kecenderungan untuk menjauhi, menghindari, membenci, tidak menyukai objek tertentu (Sarlito Wirawan Sarwono, 2000).

Sikap dapat terbentuk melalui pengalaman pribadi misalnya, adanya trauma pada hubungan dengan pasangan sebelumnya (dikhianati pacar). Pengaruh orang lain yang dianggap penting misalnya, pengaruh dari pasangan agar mau untuk melakukan “kumpul kebo”. Pengaruh kebudayaan misalnya individu tersebut lahir dan tumbuh di kebudayaan modern (yang menghalalkan kehidupan “kumpul kebo”). Media massa misalnya adanya informasi dari luar yang banyak mendukung dan melakukan kehidupan “kumpul kebo” (informasi dari majalah, internet). Lembaga pendidikan  dan lembaga agama misalnya kurang adanya bimbingan dari orang-orang sekitar tentang kehidupan yang baik serta kurangnya pendalaman iman terhadap individu tersebut. Serta faktor emosional misalnya, adanya penyaluran rasa frustasi akibat jauh dari keluarga.

Sikap cenderung mendukung dan tidak mendukung terhadap “kumpul kebo” didasarkan pada 3 (tiga) komponen sikap yaitu : komponen kognisi (pemahaman, pengetahuan, keyakinan, kepercayaan, konsep tentang samen leven), komponen afeksi (reaksi emosional subjektif terhadap samen leven), dan komponen konasi (kecenderungan tingkah laku terhadap samen leven). Sikap yang cenderung positif akan mendukung terjadinya “kumpul kebo” bahkan sampai melakukan “kumpul kebo” karena pemahaman akan informasi yang diperoleh mengenai “kumpul  kebo” dapat mempengaruhi perasaan setuju melalui perilakunya mengikuti kehidupan “kumpul kebo”. Sebaliknya, sikap yang cenderung negatif akan memunculkan sikap yang tidak mendukung dan menolak terjadinya “kumpul kebo” karena informasi yang diterima adalah pemahaman akan buruknya kehidupan “kumpul kebo” yang dapat juga mempengaruhi perasaan tidak setuju dan tidak melakukan “kumpul kebo”.

Perbedaan sikap positif dan negatif yang ditunjukkan 4 mahasiswa Universitas Esa Unggul, mendorong peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang sikap mahasiswa Esa Unggul terhadap kumpul kebo yang diidentifikasi sebagai berikut ::

  1. Bagaimana sikap mahasiswa Esa Unggul terhadap Kumpul Kebo
  2. Apakah dimensi dominan yang membentuk sikap tersebut
  3. Bagaimana siginikasi perbedaan sikap antara mahasiswa dikaitkan dengan Jenis Kelamin dan Tempat tinggal selama kuliah

C. MANFAAT PENELITIAN

Dengan mengetahui gambaran sikap mahasiswa terhadap kumpul kebo diharapkan akan memberikan manfaat untuk :

  1. Institusi Pendidikan pada tingkat Universitas, Fakultas dan Program Studi secara umum dan Universitas Esa Unggul pada khususnya untuk menentukan prioritas program pembinaan mahasiswa.
  2. Mengetahui sikap mahasiswa Universitas Indonusa Esa Unggul yang mendukung dan tidak mendukung samen leven berdasarkan data penunjang.

D. RANCANGAN PENELITIAN

1.   Variabel Penelitian

a.   Definisi Konseptual

Sikap adalah pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, prediposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial (LaPiere, 1934 (dalam Azwar, 2007)

b. Definisi Operasional

Klasifikasi sikap positif dan sikap negatif berdasarkan nilai skor total dari pernyataan terhadap dimensi kognitif, afektif dan konatif. Semakin tinggi skor totalnya maka semakin positif sikapnya terhadap samen leven (“kumpul kebo”), sebaliknya, semakin rendah skor totalnya maka semakin negatif sikapnya terhadap samen leven (“kumpul kebo”).

2.      Populasi dan Sampel

Mahasiswa Universitas Esa Unggul yang tercatat aktif pada semester Ganjil 2009/2010 yang berjumlah 4940 mahasiswa. Jumlah sampel ditetapkan 2% dari jumlah populasi dan sampel setiap Fakultas dihitung secara proporsioanl (Tabel D.1)

Tabel D.1 Jumlah Populasi dan Sampel

FAKULTAS POPULASI PROPORSI (%) SAMPEL
Ekonomi 952 19.40 19
Teknik 366 7.10 7
Ilmu Kesehatan 672 14.30 14
Hukum 604 12.22 12
Ilmu Komunikasi 940 19.40 19
Fisioterapi 289 5.10 5
Psikologi 396 8.20 8
Ilmu Komputer 721 14.30 14
TOTAL 4940 100 98

Responden dipilih secara random yang memiliki Nomor Induk Mahasiswa ( NIM ) ganjil yang ditemukan pada saat pengambilan data

3.   Alat Ukur dan Teknik Skoring

Pada penelitian ini instrumen pengumpulan data berupa kuesioner yang terdiri dari dua bagian. Di bagian pertama berisi data mengenai latar belakang subyek antara lain;

  • Jenis kelamin, untuk memastikan ada streotip gender yang lebih dominan.
  • Usia, untuk mengetahui subyek berada pada rentang usia dewasa muda.
  • Fakultas, untuk menyetarakan jumlah sampel dan mengetahui fakultas yang mendukung dan tidak mendukung samen leven.
  • Status tempat tinggal mahasiswa saat ini, untuk mengetahui dimana mahasiswa tinggal saat ini.

Di bagian kedua adalah skala sikap yang disusun berdasarkan teori sikap dari Calhoun & Acocella (dalam Azwar, 2007), yang berdasarkan dimensi kognitif, afektif, dan konatif (Tabel D.2)

Tabel D.2 Kisi- Kisi

DIMENSI INDIKATOR FAVORABLE UNFAVORABLE JUMLAH
KOGNISI Pemahaman individu terhadap samen leven berdasarkan pilihan hidup 10, 14, 29,41, 46 34, 51, 54,57, 47 10
Kepercayaan individu terhadap samen leven dilihat dari segi agama, ekonomi, hukum, sosial dan budaya 48, 3*, 15, 21 2*, 19,28,37 8
Pengetahuan individu terhadap samen leven berdasarkan pada pemenuhan kebutuhan biologis 22 8 2
AFEKSI Reaksi emosional individu terhadap samen leven berdasarkan pilihan hidup 1, 4,11, 16 5*, 7,17,27 8
Perasaan emosional individu terhadap samen leven dilihat dari segi agama, ekonomi, hukum, sosial dan budaya 23, 30, 33, 42 12, 26, 32, 36 9
Reaksi emosional individu teehadap samen leven berdasarkan pada pemenuhan kebutuhan biologis 38, 45 40, 44 4
KONASI Kecenderungan berperilaku  individu terhadap samen leven berdasarkan pilihan hidup 18, 39, 49, 60, 31 13, 20, 52, 53, 55, 56 12
Kecenderungan berperilaku  individu terhadap samen leven  dilihat dari segi agama, ekonomi, hukum, sosial dan budaya 9, 25, 36 24, 43, 50 6
Tindakan individu terhaap samen leven berdasarkan pada pemenuhan kebuuhan biologis 6 58 2
JUMLAH 30 30 60

Setiap pernyataan sikap menggunakan skala likert Sangat Setuju, Setju, Tidak Setuju dan Sangat Tidak Setuju dengan scoring seperti ditunjukkan dalam Tabel D.3.

Tabel D.3 Skoring Sikap

RESPON SKOR UNTUK PERNYATAAN
FAVORABLE UNFAVORABLE
Sangat Setuju 4 1
Setuju 3 2
Tidak Setuju 2 3
Sangat Tidak Setuju 1 4

4.   Pengujian Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur

a.   Validitas Alat Ukur

Validitas isi dilakukan dengan pemeriksaan kisi-kisi, butir, dan pernyataan item dengan melakukan konsultasi pada pakar (expert judgement) dan setelah itu di uji coba ke lapangan. Validitas butir dilakukan terhadap hasil uji coba dengan menggunakan korelasi Pearson product moment antara skor butir instrumen dengan skor totalnya (Sugiyono, 2002).

Berdasarkan hasil uji validitas terhadap alat ukur dari 60 item terdapat 4 item gugur dan 56 item valid. Dari 56 item yang valid terdapat 18 item Kognitif (9 item favorable, 9 item unfavorable), 18 item Afektif (9 item favorable, 9 item unfavorable) dan 20 item Konatif (10 item favorable ,10 item unfavorable).

b.   Reliabilitas

Pengujian reliabilitas alat ukur dalam penelitian ini dilakukan dengan prosedur internal consistency yaitu menggunakan tehnik Cronbach apha (Arikunto, 2007).

Adapun kaidah klasifikasi uji reliabilitas seperti ditunjukkan dalam Tabel D.4

Tabel D.4 Klasifikasi Uji Reliablitas

Nilai Kriteria
Ø  0.9 Sangat Reliable
0.70 – 0.90 Reliable
0.40 – 0.70 Cukup Reliable
0.20 – 0.40 Kurang Reliable
< 0.20 Tidak Reliable

Hasil analisa uji reliabilitas dengan menggunakan tehnik Cronbach Alpha memperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,752 atau Reliable.

5.      Analisis Data

a.       Kategorisasi Subjek

Pengelompokkan subjek yang memiliki sikap mendukung (Total skor tinggi) dan tidak mendukung (Total skor rendah) dilakukan dengan menggunakan Persentil sebagai berikut : (Nisfiannoor, 2009)

Total Skor   ≤ P 27 Tidak Mendukung

Total Skor   ≤ P 73 Mendukung

b.      Dimensi Dominan

Dimensi dominan sikap setiap responden dihitung dengan menggunakan Z-Score

c.       Uji beda

Uji beda proporsi mahasiswa yang memiliki sikap mendukung atau tidak mendudkung dikaitkan dengan Jenis kelamin, Fakultas dan tempat tinggal dilakukan dengan menggunakan statistik Kai Kuadrat

5.      Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan November 2009 dan Januari 2010 di Universitas Indonusa Esa Unggul.

E.   STUDI PUSTAKA

  1. Sikap

Sikap merupakan kecenderungan untuk berespon positif (favorably) atau negatif (unfavorably) pada seseorang, sesuatu, tempat, ide ataupun situasi (Wortman,Loftus & Weaver dalam Komariana, 2007) atau merupakan penilaian afektif (mendukung-tidak mendukung, setuju-tidak setuju, negatif-positif) terhadap suatu objek sikap (Likert dalam Yulianto, 2005). Definisi sikap yang diungkapkan pada pendekatan ini adalah afek atau penilaian positif atau negatif terhadap suatu objek. Dengan demikian pendekatan single component memandang sikap sebagai evaluasi individu terhadap suatu objek sikap. Demikian pula yang dikemukakan oleh Schufman (dalam Franzoi, 2003) bahwa definisi evaluasi adalah sentral dalam menentukan sikap.

Menurut Franzoi (2003) bahwa beberapa ahli psikologi sosial lebih menggunakan single component, definisi yang mengutamakan evaluation (penilaian) karena 3 (tiga) aspek dari definisi tricomponent sikap tidak selalu mewakili sikap. Namun demikian para ahli tersebut tetap mempertimbangkan pentingnya beliefs, feelings, dan behavior dalam menjelaskan sikap. Sikap yang merupakan evaluasi terhadap suatu objek sikap yang disusun berdasarkan pada interaksi antara komponen kognitif (berhubungan dengan kepercayaan atau keyakinan), afektif (berhubungan dengan kehidupan emosional seseorang), dan konatif (kecenderungan untuk bertingkah laku) seperti diungkapkan oleh Mann (Azwar, 2005) yaitu

a) Komponen Kognitif

Komponen kognitif mencakup kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap. Kepercayaan tersebut berasal dari apa yang telah kita lihat atau apa yang telah kita ketahui. Ketika kepercayaan telah terbentuk maka hal tersebut akan menjadi dasar dari apa yang diharapkan dari objek tertentu. Berdasarkan kepercayaan tersebut akan terbentuk suatu ide atau gagasan mengenai sifat atau karakteristik umum suatu objek.

b) Komponen Afektif

Komponen afektif berhubungan dengan masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Secara umum, komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Walau demikian, pengertian perasaan pribadi seringkali sangat berbeda dengan sikap. Perasaan pribadi menunjuk kepada manifestasi dari sikap seseorang terhadap suatu objek.

c) Komponen Konatif

Komponen konatif dalam struktur sikap menunjuk kepada perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku. Maksudnya, bagaimana individu berperilaku dalam situasi tertentu dan terhadap objek tertentu akan ditentukan dari bagaiman kepercayaan dan perasaannya terhadap objek tersebut. Kecenderungan berperilaku secara konsisten, selaras dengan kepercayaan dan perasaan dapat membentuk sikap individual yang tercermin dalam bentuk perilaku terhadap objek.

Sikap bukan hanya sebuah ungkapan tetapi memiliki 3 fungsi utama (Baron & Byrne (2003) yaitu :

a)      Fungsi Organisasi. Keyakinan yang terkandung dalam sikap individu  memungkinkan individu tersebut mengorganisasikan pengalaman sosialnya. Dalam arti lain, dengan sikapnya seseorang akan mampu mengorganisasikan dan menginterpretasikan berbagai macam informasi diterimanya dalam hal ini melibatkan pengetahuan yang dimilikinya.

b)      Fungsi Kegunaan. Individu menggunakan sikap untuk menegaskan sikap orang lain dan selanjutnya memperoleh persetujuan sosial. Fungsi ini dapat dikatakan sebagai fungsi ekspresi diri (Self-expression atau self identity) sehingga individu dapat menyatakan nilai-nilai atau keyakinannya.

c)      Fungsi Perlindungan. Sikap menjaga individu dari ancaman terhadap harga diri individu (hal ini serupa dengan fungsi dari mekanisme pertahanan proyeksi dari Freud). Fungsi ini sebagai sarana untuk peningkatan harga diri (self esteem)

Terdapat beberapa faktor yang menentukan sejauh mana sikap mempengaruhi tingkah laku termasuk didalamnya keterlibatan aspek situasi dimana sikap diekspresikan dan aspek dari sikap itu sendiri.

a)      Aspek Situasi: Faktor yang mencegah individu mengekspresikan sikap individu cenderung untuk memilih situasi di mana mereka dapat bertingkah laku sesuai dengan sikapnya, sikap itu sendiri dapat diperkuat oleh ekspresi yang tampak dan menjadi prediktor tingkah laku yang lebih baik (DeBono & Snyder dalam Baron & Byrne, 2003 (dalam Komariana, 2007)). Tekanan situasi membentuk kemungkinan sikap diekspresikan dalam tingkah laku yang tampak.

b) Aspek dari sikap itu sendiri, yang meliputi

(i)     Sumber suatu sikap (Attitude Origins). Faktor inilah yang mempengaruhi bagaimana pertama kali sikap terbentuk. Bukti yang ada mengindikasi bahwa sikap yang terbentuk berdasarkan pengalaman langsung sering kali memberikan pengaruh yang lebih kuat pada tingkah laku daripada sikap yang terbentuk berdasarkan pengalaman tidak langsung atau pengalaman orang lain.

(ii)   Kekuatan sikap (Attitude Strength). Disebut sebagai kekuatan sikap yang dipertanyakan. Semakin kuat sikap tersebut, semakin kuat pula dampaknya pada tingkah laku (Petkova, Ajzen & Drive, dalam Baron & Byrne, 2003). Hal ini melibatkan beberapa faktor yaitu (a) Keekstriman atau intensitas dari sebuah sikap (seberapa kuat reaksi emosional yang berhasil dibangkitkan oleh obyek sikap tertentu. (b) Kepentingan (sejauh mana individu peduli dan secara pribadi dipengaruhi oleh sikap tersebut). (c) Pengetahuan (seberapa banyak individu mengetahui obyek sikap tersebut). (d) dan kemudahan diakses (semudah apa sikap tersebut diterima oleh akal sehat dalam berbagai situasi) (Petty & Krosnick, Baron & Byrne, 2003)

(iii) Kekhususan sikap ( Attitude Specificity). Sejauhmana sikap terfokus pada obyek tertentu atau situasi dibandingkan hal yang umum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara sikap dan tingkah laku lebih kuat ketika sikap dan tingkah laku diukur pada tingkat kekhususan yang sama.

Azwar (1995) menjelaskan adanya 6 faktor yang mempengaruhi dalam pembentukan sikap diantaranya adalah :

a)      Pengalaman pribadi, segala sesuatu yang dialami atau sedang dilakukan individu akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatannya terhadap suatu stimulus sosial

b)      Pengaruh orang lain yang dianggap penting, pengaruh orang lain yang dianggap penting dalam kehidupan seseorang akan mempengaruhi pembentukan sikap orang tersebut, hal ini disebabkan karena adanya keinginan untuk berafiliasi dan menghindari konflik dengan orang penting tersebut.

c)      Pengaruh kebudayaan, kebudayaan seseorang dimana ia hidup dan dibesarkan sangat berpengaruh pada pembentukkan sikapnya

d)     Media massa, adanya informasi baru tentang suatu hal memberikan landasan kognitif yang baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Bila pesan sugestif yang dibawa oleh informasi cukup kuat maka dapat memberi dasar afektif dalam menilai suatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tersebut

e)      Lembaga pendidikan dan lembaga agama, kedua lembaga ini berpengaruh dalam pembentukkan sikap karena meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu

f)       Faktor emosional, suatu bentuk sikap kadang merupakan suatu yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai sarana untuk menyalurkan frustasi atau mekanisme pertahanan ego. Sikap tersebut dapat bersifat sementara atau bertahan lama.

Salah satu sumber penting dalam membentuk sikap adalah dengan mengadopsi sikap tersebut dari orang lain melalui proses pembelajaran sosial. Pembelajaran sosial ini terjadi melalui beberapa proses yaitu :

1) Classical Conditioning : Pembelajaran berdasarkan asosiasi, merupakan prinsip dasar psikologi bahwa ketika sebuah stimulus berulang-ulang diikuti oleh stimulus yang lain, stimulus pertama akan segera dianggap sebagai tanda-tanda bagi munculnya stimulus yang mengikutinya.

2) Instrumen Conditioning : Belajar untuk mempertahankan  pandangan yang benar, merupakan bentuk dasar dari pembelajaran respon yang menimbulkan hasil positif atau mengurangi hasil negatif yang diperkuat.

3) Observational Conditioning ; Pembelajaran dari observasi ( belajar dari contoh ). Proses ini terjadi ketika individu mempelajari bentuk tingkah laku atau pemikiran baru hanya dengan mengobservasi tingkah laku orang lain (Bandura, dalam Baron & Byrne (dalam Komariana, 2007))

2. Samen Leven ( “kumpul kebo” )

Istilah samen leven (“kumpul kebo”)  memiliki pengertian sebagai hidup bersama antara pasangan seorang laki-laki dan wanita tanpa didasari ikatan pernikahan yang sah (Hoffman, et al., 1994; Papalia, et al., 1998, Santrock, 1999, (dalam Dariyo, 2003)). Dalam kehidupan “kumpul kebo”, individu bebas melakukan hubungan seksual dengan pasangan hidupnya, bahkan ada yang mempunyai keturunan. Istilah “kumpul kebo” juga disebut sebagai consensual informal union, artinya kehidupan bersama layaknya suami istri, yang dijalin melalui hubungan antara seorang laki-laki dan seorang wanita, yang bersifat informal atau tidak sah secara hukum perkawinan. Mereka sepakat menjalani kehidupan bersama kalau masih dirasakan cocok antara satu dan yang lain, namun mereka akan berpisah kalau merasa tidak cocok lagi, misalnya hilangnya rasa saling pengertian dan penghargaan di antara keduanya.

Seorang individu mengambil keputusan untuk melakukan “kumpul kebo”  karena didasari beberapa faktor, di antaranya :

a)   Ketidaksiapan Mental untuk Menikah

Individu ingin membentuk hubungan yang romantis dengan pasangannya sehingga dapat meyalurkan kebutuhan seksualnya tanpa harus terikat dalam pernikahan yang sah. Mereka yang melakukan “kumpul kebo”, umumnya tidak memiliki kesiapan mental untuk memasuki jenjang pernikahan walaupun dari segi usia dan pekerjaan atau ekonomi sudah memenuhi syarat. Menurut Popenoe dan Whitehead (dalam Papalia, Olds, dan Feldman, 2001) menyatakan bahwa orang laki-laki cenderung menganggap “kumpul kebo” sebagai kesempatan melakukan hubungan seksual dengan pasangan hidupnya, sedangkan bagi wanita, “kumpul kebo” dianggap sebagai persiapan untuk memasuki pernikahan yang sah.

b)      Ketidaksiapan secara Ekonomis

Dari segi usia, mungkin seseorang telah memenuhi syarat, namun dari segi ekonomis mungkin merasa belum siap untuk menikah. Mereka yang tergolong belum mandiri secara ekonomi, misalnya mereka yang masih duduk di bangku perguruan tinggi, lulus universitas atau akademi tetapi masih menganggur, atau sudah bekerja tetapi penghasilannya belum mencukupi jika dipergunakan untuk hidup berdua dalam pernikahan. Sementara itu, dorongan seksual dari dalam dirinya sudah seharusnya memperoleh penyaluran secara teratur dan sah dari segi hukum perkawinan. Dengan kondisi tersebut, akhirnya mereka sering kali hamya berpikir dalam jangka pendek, yaitu yang penting bagaimana kebutuhan biologis tersebut segera dapat terpenuhi, tetapi dengan konsekuensi mengabaikan nilai-nilai agama, norma sosial dan etika. Akhirnya, mereka memilih “kumpul kebo” sebagai alternatif terbaik.

c)   Pengalaman Traumatis sebelum dan sesudah Pernikahan

Bagi seorang individu yang telah menjalin hubungan dengan lawan jenis, tetapi putus. Akhirnya mengalami patah hati, dengan perasaan sangat kecewa (frustasi), sedih, putus asa, dan dendam, individu memilki pemikiran (niat) untuk tidak menikah secara resmi. Akhirnya, mereka pun melakukan “kumpul kebo” dan tinggal serumah dengan pasangan hidupnya. Mereka hidup bersama sehingga dapat saling membagi cinta kasih dan menyalurkan hasrat seksual.

Bila salah satu atau kedua orang yang melakukan “kumpul kebo”, sebelumnya pernah menikah, namun kemudian bercerai. Misalnya, karena ketidaksetiaan pasangan hidupnya, kemudian terjadi perselingkuhan. Mereka merasa sakit hati dan kemudian memutuskan unutk hidup bersama dengan orang lain tanpa didasari ikatan pernikahan yang sah.

F.      HASIL PENELITIAN

1.      Sikap Responden Mahasiswa Terhadap Kumpul Kebo

Total skor dari 98 responden berada pada rentang 57 – 159 dengan rata-rata 93.75 dan standar deviasi 23,6, Nilai Total skor P27 = 75,19 dan Nilai total skor P73= 105.

Berdasarkan nilai P27 dan P73, jumlah responden mahasiswa yang memiliki sikap mendukung dan tidak mendukung terhadap kumpul kebo dapat ditunjukkan dalam Tabel F-1

Tabel 4.4  Sikap Mahasiswa TerhadapKumpulKebo

Sikap Jumlah Proporsi (%)
Tidak Mendukung 26 53,06
Mendukung 23 46,94
Total 49 100

Perbedaan jumlah mahasiswa yang mendukung (46,94%) dan tidak mendukung (53,06%) kumpul kebo pada taraf siginifikasi 10% tidak siginifikan ( nilai kai kuadrat sampel 1,10 < 2.70).

2.      Sikap Responden Mahasiswa Berdasakan Jenis Kelamin

Penggolongan sikap responden mahasiswa berdasarkan jenis kelamin dapat ditunjukkan pada Tabel F-2

Tabel F.2  Sikap Mahasiswa Berdasarkan Jenis Kelamin

Sikap Jenis Kelamain Jumlah
Laki Wanita
Tidak Mendukung 16 10 26
Mendukung 15 8 23
Total 31 18 49

Dari 31 responden mahasiswa, 48,39% mendukung dan 51,61% tidak mendukung kumpul kebo, sementara dari 18 responden mahasiswi 44,44 % mendukung dan 55,56% tidak mendukung kumpul kebo. Perbedaan jenis kelamin dalam sikap terhadap kumpul kebo tidak siginifikan pada taraf siginifikasi 10%  ( Nilai kai kuadrat sampel 0.07 < 2.70). .

3.      Sikap Responden Mahasiswa Berdasakan Tempat Tinggal

Penggolongan sikap responden mahasiswa berdasarkan tempat tinggal dapat ditunjukkan pada Tabel F-3

Tabel F.3  Sikap Mahasiswa Berdasarkan Jenis Kelamin

Sikap Tempat Tinggal Jumlah
Ortu Kost Lainnya
Tidak Mendukung 12 13 1 26
Mendukung 0 13 1 23
Total 12 26 2 49

Dari 12 responden yang tinggal dengan orang tua 100% tidak mendukung kumpul kebo, sedangkan 50% responden yang tinggal ditempat kost atau lainnya 50% diantaranya mendukung dan 50% lainnya tidak mendukung. Perbedaan tempat tinggal mahasiswa pada taraf siginifikasi 10% siginifikan terhadap sikap terhadap kumpul kebo. ( (nilai kai kuadrat sampel = 10.72 > 4.60 )

4.      Dimensi Sikap

Penggolongan sikap responden mahasiswa berdasarkan dimensi sikap dominan tempat tinggal dapat ditunjukkan pada Tabel F-4

Tabel F.4  Dimensi Sikap Mahasiswa terhadap kumpul kebo

Sikap Tempat Tinggal Jumlah
Koginitif Afektif Konatif
Tidak Mendukung 9 16 1 26
Mendukung 9 9 5 23
Total 18 25 6 49

Dari 23 responden yang mendukung kumpul kebo, dimensi kognifit dan afektif yang mendasari sikapnya memiliki porsi yang sama yaitu 39,13% sedangkan yang tidak mendukung terlihat sangat menonjol dalam dimensi afeksi sebesar 61,53%. Dengan taraf siginifikasi 10%, komponen dimensi sikap mendukung atau tidak mendukung kumpul kebo berbda secara siginifikan (nilai kai kuadrat sampel = 5.29 > 4.60)

G.    SIMPULAN

1.      Sikap responden mahasiswa terhadap kumpul kebo tidak berbeda secara siginifikan namun memiliki perbedaan yang signifikan pada komponen sikap yang mendasari sikap tersebut.

2.      Jenis kelamin responden bukan merupakan faktor siginifikan dalam pembentukan sikap terhadap kumpul kebo

3.      Tempat tinggl responden selama kuliah merupakan faktor signifikan dalam sikapnya terhadap kumpul kebo.