Tangannya menengadah….
Dalam terik dan hujan…ia tetap menengadah.
Menanti orang lain yang berbelas kasih untuk memberinya uang… walaupun bukan beberapa ratus tetapi hanya seratus rupiah saja.

Ia sering diusir satpam.
Mengganggu pemandangan para nasabah, katanya.
Ah.. apa hubungannya para nasabah dengan perempuan tua itu?
Toh perempuan lanjut usia itu tidak masuk ke dalam bank!
Kadang ia didorong….kadang ia ditendang.

Enak rasanya bagi orang yang digaji satu juta lebih setiap bulan untuk tidak memikirkan apakah hari ini ia akan makan atau tidak.

Langit mulai gelap disertai rintik-rintik air yang diturunkan dari langit.
Aku datangi perempuan itu kemudian mengangkatnya dan membantunya berjalan menuju tempat yang aman dari hujan.
“Berapa penghasilan hari ini, Nak?”
“Sedikit, Bu.”
“Ibu juga hanya sedikit…Malam ini kita tidak bisa makan nasi.
“Maafin ibu ya?”
Dengan tangannya yang bergetar, Ibu membelai lembut pipiku.

“Jangan meminta maaf, Bu..” Aku tersenyum.
“Aku punya sesuatu buat ibu dari hasil tabunganku selama satu tahun.”
Aku membuka kantung plastikku.
Ku ambil sehelai kain putih bersih tanpa noda yang ku beli dari obralan murah di pasar baru.

“Kerudung ibu sudah rusak. Aku belikan yang baru..”
Ibu tertegun melihat kain ditanganku, seolah-olah ia melihat benda yang paling mewah seumur hidupnya.
“Alhamdulillah…” Bisiknya sambil meneteskan air mata.

Wahai manusia angkuh dan sombong yang mendapat gaji….dengarkanlah,
Sungguh aku tidak takut miskin,
Aku tidak takut diusir
Aku tidak takut tidak makan
Aku tidak takut dibunuh oleh preman pasar
Aku pun tidak takut dirazia oleh polisi
Aku tidak takut apapun.
Satu-satunya yangpaling aku takutkan adalah melihat ibu menangis.

Kucium tangannya. “Terima Kasih Ibu”
sumber : situslakalaka

(kiriman Alex Suyudi [at] yahoo.com)