Seorang direktur yang baru diangkat memasuki ruang kerjanya dan menemukan empat buah ampop tertumpuk di atas meja….
Pada amplop pertama tertulis “Bukalah aku terlebih dahulu”
Kemudian di amplop berikutnya berturut-turut tertulis nomor 1, 2, 3.

Ia membuka amplop pertama dan menemukan sepucuk surat dari direktur terdahulu yang digantikannya….
Di surat tersebut tertulis, “Berikut ini, aku tinggalkan padamu tiga buah surat yang akan menyelamatkanmu dari masa-masa krisis.
Setiap kau mengalami keadaan darurat dimana kau tidak tahu harus berbuat apa, bukalah amplop-amplop berikut ini secara berurutan…
Mulai dari nomor satu, nomor dua lalu nomor tiga.”

Direktur itu lalu menyimpan amplop-amplop tersebut dan segera melupakannya.
Enam bulan kemudian…para buruh di perusahaannya mogok kerja.
Pabrik pun ditutup dan mengalami kerugian besar.
Berhari-hari ia melakukan negosiasi dengan serikat pekerja, tetapi hasilnya nol besar.
Tiba-tiba ia teringat pada amplop-amplop peninggalan direktur pendahulunya…
Kemudian ia membuka amplop nomor satu….
Dan ia membaca, “Untuk memecahkan persoalanmu ini, salahkan saja aku.
Lemparkan semua kekeliruan yang terjadi pada aku…direktur pendahulumu…
Wow, ini ide yang bagus, katanya dalam hati.
Kemudian ia mengikuti apa yang tertulis di surat itu dan persoalannya pun selesai, Semua orang senang.

Beberapa bulan kemudian, para buruh melakukan mogok kerja lagi…
Kali ini ia langsung membongkar laci mejanya dan membuka surat nomor dua.
Di sana tertulis, “Kali ini, salahkan Pemerintah atas semua persoalan yang menimpamu.” Anjuran ini pun bekerja dengan baik, persoalan pun beres dan ia pun bisa bernafas lega.
Sekali lagi, pekerjaannya terselamatkan.

Sebulan kemudian, buruh mogok lagi….
Tanpa banyak pikir, direktur itu membuka amplop nomor tiga.
Di sana tertulis, “Cepat siapkan empat buah amplop sebagaimana yang aku wasiatkan padamu ini.”

Subagyo Koesoemahardja- Gemilang 77