‎​Pak Soetarno seorang penjaga rel kereta api mengikuti ujian kenaikan pangkat untuk menempati kedudukan sebagai supervisor.
Untuk menempati kedudukan tersebut ia harus mengikuti test wawancara.
(Penguji) : Misalkan ada dua kereta api berpapasan pada jalur yang sama, apa yang akan kamu lakukan?

(Sutarno) : Tentu saja saya akan memindahkan salah satu kereta ke jalur yang lain (Penguji) : Kalau handle untuk pengalihan relnya rusak, bagaimana?
(Sutarno) : Oh, saya akan langsung turun ke rel dan membelokkan relnya secara manual
(Penguji) : Kalau macet atau alatnya rusak bagaimana?
(Sutarno) : Saya pakai HP dan menelepon stasiun terdekat
(Penguji) : Kalau HP baterai habis ?
(Sutarno) : Saya kembali ke pos dan menelepon stasiun terdekat.
(Penguji) : Kalau telepon di pos rusak?
(Sutarno) : Saya akan lari ke telpon umum terdekat.
(Penguji) : Kalau telpon umum juga rusak?
(Sutarno) : Saya cari pinjaman telepon
(Penguji) : Kalau tidak ada yang meminjamkan!
Sejenak sang penjaga terdiam….
(Sutarno : Kalau semua rusak, HP rusak, tidak bisa pinjam sama siapapun, maka saya akan segera menjemput neneksaya..
(Penguji) : Jemput nenek?… memang nenek kamu bisa betulin rel kereta?
(Sutarno) : Bukan begitu… nenek saya umurnya sudah 89 tahun, dan seumur hidup belum pernah melihat kereta api tabrakan!