Dosa tak ubahnya seperti tiupan angin di tanah berdebu…
Wajah terasa sejuk sesaat, tapi butiran nodanya mulai melekat…
Tanpa terasa, tapi begitu berbekas…
Kalau saja tak ada cermin, orang tak pernah mengira kalau ia sudah berubah.

P’erjalanan hidup memang penuh debu…
Sedikit, tapi terus dan pasti…..
Butiran-butiran debu dosa kian bertumpuk dalam diri…
Seberapa peka hati menangkap itu..
Boleh jadi, mata kepekaan pun telah tersumbat dalam gundukan butiran debu dosa yg mulai menggunung.
Seorang mukmin saleh mungkin tak akan terpikir akan melakukan dosa besar..
Karena hatinya sdh tercelup dengan warna Islam yg teramat pekat.
Jangankan terpikir, mendengar sebutan salah satu dosa besar saja, tubuhnya langsung merinding.
Lidah pun berucap, “Na’udzubillah min dzalik!”

Namun, tidak begitu dengan dosa-dosan kecil.
Karena sedemikian kecilnya…
Dosa seperti itu menjadi tidak terasa…
Terlebih ketika lingkungan yang redup dengan cahaya Illahi ikut memberikan andil.
Dosa menjadi biasa.

Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah dosa2 kecil, karena jika ia terkumpul pada diri seseorang, lambat laun akan menjadi biasa.”

Dalam beberapa kesempatan, Rasulullah saw. mewanti para sahabat agar berhati2 dengn sbuah kebiasaan…Karena boleh jadi, sesuatu yg dianggap ringan, punya dampak besar buat pembentukan hati.

Dari Anas Ibnu Malik berkata, “Rasulullah saw. menyampaikan sesuatu di hadapan para sahabatnya. Beliau saw. berkata: ‘Telah diperlihatkan kepadaku surga dan neraka, maka aku belum pernah melihat kebaikan dan keburukan sepert pada hari ini. Jika kalian mengetahui apa yg aku ketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa & banyak menangis.’

Anas berkata, “Tidak pernah datang kepada saabat Rasulullah suatu hari yg lebih berat kecuali hari itu.”
Berkata lagi Anas, “Para sahabat Rasulullah menundukkan kepala-kepala mereka & terdengar suara tangisan mereka.” (Bukhari & Muslim)
(Kiriman Daria Hanum)