Dokter sekaligus herbalis dr. Paulus Wahyudi Halim menyatakan pendapatnya di majalah Trubus sehubungan dengan pengobatan kanker, “Tak ada peluru ajaib untuk menembak kanker. Tanaman obat harus campuran sehingga sinergis dan hasilnya maksimal. Sinergisme juga menetralisir efek samping.”

Dari kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengobatan secara alternatif akan lebih efektif jika mengkonsumsi herbal yang sinergis sehingga saling melengkapi dalam membantu pengobatan.

Sarang Semut dan Daun Sirsak sangat bagus jika digunakan secara bersamaan untuk saling melengkapi dalam membantu pengobatan kanker. Cara kerja kedua herbal yang sinergis ini dapat membantu efektifitas pengobatan yang Anda atau keluarga Anda jalani.
Sejak tahun 2006 herbal Sarang Semut sudah digunakan oleh ribuan orang untuk membantu pengobatan berbagai jenis kanker, dan khasiatnya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, baik sebagai herbal tunggal maupun pelengkap. Rata-rata mereka yang menggunakan herbal ini merasakan perbaikan-perbaikan yang signifikan dalam waktu satu sampai dua bulan penggunaan saja.

Jenis Sarang Semut yang sering dipakai sebagai obat tradisional adalah: Hydnophytum Formicarum Myrmecodia tuberosa, Myrmecodia Pendans (semut genus Ochetellus).
Di Indonesia hanya kapsul ekstrak kering atau campuran ekstrak kental dengan bahan pengering yang diizinkan POM untuk dijual. Kapsul bubuk kering tanpa proses ekstraksi berbahaya lantaran senyawa-senyawa aktif di dalam kapsul tidak dengan serta merta terlepas di lambung atau usus sehingga ada ampas yang menyebabkan hati dan ginjal bekerja ekstra keras untuk detoksifikasi. Penggunaan dalam waktu lama dapat mengakibatkan kerusakan pada hati dan ginjal. Kalau sudah diekstrak, senyawa aktifnya mudah terlepas dan diserap usus sehingga aman bagi hati dan ginjal.

Sarang Semut kaya antioksidan kuat seperti tokoferol, flavonoid dan tanin. Sarang Semut bekerja dengan memerangi radikal bebas yang memicu kanker sehingga mencegah sel-sel kanker berkembang dengan pesat. Anti oksidan bersifat imunomodulator yaitu menguatkan sel-sel yang sehat untuk menghadang kanker. Mekanisme yang sudah berhasil diungkap adalah sitotoksik (penghambatan siklus pembelahan sel) dan induksi apoptosis (merangsang proses bunuh diri sel kanker). Senyawa aktif yang sudah berhasil diidentifikasi antara lain adalah flavonoid glikosida, tanin, stigmasterol, dan inhibitor histone deacetylase (HDAC). Senyawa-senyawa itu memang dikenal luas sebagai golongan senyawa antikanker. Diduga kuat flavonoid glikosida dan stigmasterol berperan dalam mekanisme sitotoksik sedangkan tanin lebih mengarah ke induksi apoptosis. Sarang Semut juga menghambat enzim xantin oksidase sehingga tak terjadi radikal bebas. Enzim lain yang dapat dihambat agar tidak kelebihan produksi antaran lain dismutase, glutation dan reduktase. Dismutase berlebih misalnya menyebabkan organ hati gagal mendetoksifikasi racun. Dampaknya hati terserang lever atau kanker hati.

Sebagai herbal pelengkap Sarang Semut, dilaporkan khasiat daun Sirsak bersifat kemoterapi tetapi dengan kekuatan 10.000 kali lebih kuat dibandingkan dengan kemoterapi konvensional. Menurut dr. Sidi Aritjahja, dokter yang juga herbalis di Yogyakarta, sebaiknya daun sirsak untuk kanker diresepkan bukan dalam bentuk tunggal. Daun sirsak bersifat asam. Jika diberikan kepada pasien kanker yang kondisi tubuhnya sedang lemah, dikhawatirkan dapat merusak dan memperparah kondisi lambung karena keasamannya meningkat. Bagus jika dipadukan dengan herbal yang dapat melindungi dinding lambung dari keasaman tinggi. Dalam hal ini Sarang Semut berperan besar dalam melindungi lambung dari keasaman daun Sirsak.

Khasiat Daun Sirsak melawan kanker dikarenakan senyawa aktifnya yaitu acetogenins. Acetogenins hanya menyerang sel kanker dengan menghambat ATP (adenonsina trifosfat) yan‎​g memberi energi pada sel kanker. Dampaknya mitosis atau pembelahan sel kanker terhambat. Sel kanker membelah sangat cepat yakni setiap 2-5 jam, sedangkan sel normal 7-14 hari. Pembelahan cepat memerlukan energi besar dari ATP. Jika pasokan energi berkurang akibat ATP terhambat, maka aktivitas sel kanker melamban dan terjadi apoptosis alias program bunuh diri sel. Actogenins dalam daun sirsak mengendalikan mitokondria yang overacting. Bila mitokondria normal, maka pertumbuhan sel kanker dapat terkendali.
(Kiriman prof raihan)