‎​‎​​Dari Abdullah bin `Amr bin `Ash radhiyallahu `anhuma, ia berkata; “Rasulullah saw mengirim sebuah pasukan perang. Nabi saw berkata: “Perolehlah keuntungan (ghanimah) dan cepatlah kembali”…
Mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya ghanimah (keuntungan) yang akan diperoleh dan cepat kembali (karena dekat jaraknya)….
Lalu Rasulullah saw berkata; “Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling dekat dari mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungan) nya dan cepat kembalinya?”
Mereka menjawab; “Ya!”
Rasul berkata lagi: “Barangsiapa yang berwudhu’, kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat Dhuha, dia lah yang paling dekat tujuanannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya” (Shahih al-Targhib: 666).
‎​​Didalam Surah Adh-Dhuha Allah swt bersumpah dengan waktu dhuha dan waktu malam: “Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi.” (QS. 93:1-2).
Pernahkah terlintas dalam benak kita mengapa Allah swt sampai bersumpah pada kedua waktu itu?. Beberapa ahli tafsir berpendapat bahwa kedua waktu itu adalah waktu yang utama paling dalam setiap harinya.
Sahabat Zaid bin Arqam ra ketika beliau melihat orang-orang yang sedang melaksanakan shalat dhuha: “Ingatlah, sesungguhnya mereka telah mengetahui bahwa shalat itu dilain sa’at ini lebih utama. Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Shalat dhuha itu (shalatul awwabin) shalat orang yang kembali kepada Allah, setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak unta bangun karena mulai panas tempat berbaringnya.” (HR Muslim).

“Setiap pagi setiap persendian salah seorang diantara kalian harus (membayar) sadhaqah; maka setiap tasbih adalah sadhaqah, setiap tahmid adalah sadhaqah, setiap tahlil adalah sadhaqah, setiap takbir adalah sadhaqah, amar ma’ruf adalah sadhaqah, mencegah kemungkaran adalah sadhaqah, tetapi dua raka’at dhuha sudah mencukupi semua hal tersebut”.

(HR. Muslim)

Rasul biasa mengerjakan sehabis bepergian, baru besok paginya sholat Dhuha, dan jumlah raka’atnya 10, dgn 2 rakaat salam. Aisyah isteri rasul biasa mengerjakan setiap hari, 2 raka’at, dan rasul membiarkannya. Waktu yang paling ideal, biasanya saat anak domba mulai kepanasan, yaa, …sekitar jam 9-10 gitu. Intinya, kita harus banyak2 berzikir kepada Allah, karena begitu banyak nikmat yang kita peroleh dari Nya. Wallahu alam.

Salah satu shalat sunat yg selalu dilaksanakan Rasulullah SAW selama hidupnya adalah shalat dhuha. Semoga dengan shalat dhuha yg kita laksanakan, menjadi penuntun bagi kita untuk melaksanakan sunah2 Rasulullah yg lainya…
آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ