1. TUNTUTAN UNTUK CERDAS

Anak Cerdas telah menjadi kebutuhan yang semakin meningkat untuk menghantarkan anak agar mendapat prestasi atau rangking bagus di sekolah kemudian mudah melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di Perguruan Tinggi yang paling baik, mendapat pekerjaan atau posisi yang bagus ditempat kerja dan akhirnya menjadi kaya. Kegiatan pembentukan anak untuk cerdas terlihat mulai dari mencari sekolah yang bagus walaupun dengan biaya mahal, menambah jam pelajaran anak dengan privat/les untuk mendukung prestasi belajar di sekolah atau memberikan kegiatan ekstra kurikuler yang prospektif bagi masa depan anak misalnya kesenian dan olah raga. Alasan untuk menjadikan anak cerdas tersebut telah mendapat legitimasi yang valid apabila kehidupan ini terbatas hanya didunia saja namun dikaitkan dengan adanya kehidupan akhirat, maka tuntutan untuk membuat anak cerdas (sempurna) seyogyanya harus dikaitkan dengan alasan penciptaan manusia oleh Sang Pencipta Allah SWT.

Manusia adalah jasad (kendaraan) dari roh yang telah mengikat janji sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an surat A Al-A’Raf ayat 172 “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah megambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) “Bukankah Aku ini tuhanmu?” Mereka menjawab “Betul (Engkau Tuhan Kami), kami menjadi saksi” (Kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan ”Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (Keesaan Tuhan)”

 Ikrar tersebut harus dipertanggung jawabkan pada saat roh tersebut kembali kepada Sang Pencipta pada waktu yang telah ditetapkan sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an surat Al-Zalzalah ayat 6-8 “Pada hari itu, manusia keluar dari kuburannya dalam bermacam-macam keadaannya agar diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mareke. Maka barang siapa mengerjakan amal kebaikan seberat dzarrahpun niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan amal kejahatan seberat dzarrahpun nicsaya ia akan melihat (balasannya) nya”

Selama manusia menjalani kehidupan didunia, Allah- Sang Pencipta  akan selalu memberikan ujian sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an surat Al-Mulk ayat 2 “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu  siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya….”

Baik atau buruknya amal manusia dikaitkan dengan dua tugas utama manusia yaitu,
(1)   Menyembah dan mengadi kepada Allah Sang Pencipta sebagaimana difirmankan dalam Al-Baqarah ayat 30 “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat “sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi….”
(2)   Menjadi Khalifah dimuka bumi sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 30 “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat “sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi….”. Tugas setiap individu manusia sebagai khalifah adalah menjaga dan memakmurkan diri sebagai hamba, keluarga dan masyarakat serta bumi Allah sebagai amanahNya.

Berkaitan dengan ayat-ayat diatas, maka hanya manusia yang memiliki KESEMPURNAAN (KECERDASAN) ilmu, iman dan perbuatan yang dapat melaksanakan tugas vertical (menyembah dan mengadi kepada Allah) dan tugas horizontal (khalifah) dengan melewati berbagai ujian selama hidup didunia serta dapat mempertanggung jawabkannya pada hari yang telah ditetapkan.

Kecerdasan (kesempurnaan) ilmu/intelktual (Intelectual Quotient), iman (Spritual Quotient) serta Sikap Perilaku (Emotional Quotient) yang dimiliki anak (manusia) akan dapat mengantarkannya pada kehidupan yang Sukses, Bahagia dan Selamat.

2. SEMUA ANAK TELAH DIPERSIAPKAN SEMPURNA
Manusia dengan tugas yang tidak dapat dianggap ringan yaitu menyembah dan mengabdi pasti harus diciptakan oleh Allah dengan syarat-syarat yang memungkinkan untuk melaksanakan tugasnya. Kesempurnan penciptaan manusia oleh Allah dinyatakan dalam Surat At-Tiin ayat 4 yang memulai penciptaannya dari tanah (surat As-Sajadah ayat 7) dan memliki kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang telah diciptakan (surat Al-Israa ayat 70). Kesempurnaan rancangan tersebut berlaku umum untuk anak manusia yang lahir dibelahan dunia bagian barat, timur, utara atau selatan dan tidak tergantung dari keimanan orang tua yang melahirkannya.

Allah tidak hanya menciptakan manusia dalam bentuknya yang sempurna tapi  melengkapi kesempurnaan rancanganNya tersebut dengan mengajarkan manusia sesuatu yang tidak diketahuinya (Al-Alaq ayat 5) secara langsung kepada Adam (Al-Baqarah ayat 31) dan secara tidak langsung melalui perantaraan kalam (Al-Alaq ayat 4) dan silih bergantinya malam dan siang (Al-Imran ayat 190).

Bahkan Allah SWT telah pula mengutus nabi dan rasul untuk mengajar kepada Manusia Al-Kitab dan Al-Hikmah (Ali-Imran ayat 164), memberikan kabar gembira dan peringatan (Surat Al-An’am ayat 48) serta rahmat bagi semesta Alam (Al-Anbiyaa ayat 107) serta menyediakan diriNya sebagai satu-satunya Pelindung dan Penolong (At-Taubah ayat 116 dan Ali-Imran ayat 173)

Dengan demikian, semua anak manusia yang dilahirkan didunia telah dipersiapkan dengan sempurna untuk dapat melaksanakan tugasnya

3. PENDIDIKAN
Apabila semua anak manusia yang dilahirkan telah dipersiapkan sempurna oleh Allah SWT Sang Pencipta, sementara upaya pengasuhan dan pendidikan telah dilakukan mengapa masih banyak ditemukan hal-hal yang tidak seperti yang diinginkan. Jawaban dari pertanyaan tersebut secara konsep adalah upaya penyuluhan dan pendidikan yang selama ini dilakukan belum maksimal atau perlu dilakukan kaji ulang untuk menyempurnakan konsep.

Pendidikan dengan manusia sebagai objek seyogyanya harus dilakukan dengan memperhatikan fitrah manusia. Untuk mengembang biakkan atau melestarikan binatang yang hamper punah, manusia melakukan upaya dengan tetap memperhatikan fitrah naluri dari binatang tersebut. Melestarikan burung elang tidak mungkin berhasil apabila dilakukan dalan sangkar yang tidak memungkinkan elang dewasa untuk  terbang dan Elang dewasa dapat membimbing anaknya untuk mencari makanan dan terbang apabila berada dalam sangkar. Logika yang sama seharusnya diperhatikan pada saat akan melakukan penyuluhan dan pendidikan agar anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai fitrahnya.

Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam kegiatan pendidikan adalah:

(1)  Pendidikan merupakan upaya untuk mempertahankan fitrah kesucian manusia agar dapat mempertanggung jawabkan tugasnya kepada Allah SWT sang Pencipta pada waktu yang telah ditetapkan
(2)  Pendidikan harus diupayakan secara komprehensif agar anak didik dapat memiliki kecerdasan intelektual, emosional dan sikap dan perilaku agar anak didik dapat menjalankan misinya di dunia dengan sukses, bahagia dan selamat
(3)  Pendidikan merupakan proses berkseinambungan harus memperhatikan fitrah kemuliaan penciptaan manusia sempurna
(4)  Pendidikan merupakan tanggung jawab keluarga, sekolah dan masyarakat

(Bersambung)

Referensi :

  1. Al-Qur’an dan Terjemahannya., Penerbit Drs. H. Ahmad Tohaputra
  2. Mansor Haji Sukaimi., Anak Cerdas, Anak Mulia, Anak Indah., Arga Publishing
  3. Sandy MacGregor., Piece of Mind., Mengaktifkan Kekuatan Pikiran Bawah sadar untuk Mencapai Tujuan., PT Gramedia Pustaka Utama