Seorang Ibu di Cina yang sudah tua memiliki 2 buah tempayan yang digunakan untyk mencari air, yang dipikul di pundak dengan menggunakan sebatang bambu.

Salah satu dr tempayan itu retak, sedangkan yg satunya tanpa cela & selalu memuat air hingga penuh…
Setibanya di rumah setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di tempayan yang retak selalu tinggal separuh
Selama 2 tahun hal ini berlangsung setiap hari…
Ibu tua selalu  membawa pulang air hanya 1 1/2 tempayan…
Tempayan utuh sangat bangga akan pencapaiannya….
Namun tempayan retak merasa malu akan kekurangannya dan sedih, sebab hanya bisa memenuhi aeparuh dari kewajibannya.
Setelah 2 tahun yang dianggapnya sebagai kegagalan…
Tempayan retak akhirnya berbicara kepada ibu tua itu di dekat sungai…
“Aku malu, sebab air bocor melalui bagian tubuhku yg retak di sepanjang jalan menuju ke rumahmu.”
Ibu itu tersenyum,….
“Tidakkah kau lihat bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui yang tidak ada di jalur yang satunya?
Aku sudah tahu kekuranganmu…
Jadi aku menabur benih bunga di jalurmu…
Setiap hari dalam perjalanan pulang kau menyirami benih2 itu…
Selama 2 tahun aku memetik bunga2 cantik untuk menghias meja.
Kalau kau tidak seperti itu….
Rumah ini tidak seasri ini… sebab tdk ada bunga.

Kita semua mempunyai kekurangan masing-masing….
Namun keretakan dan kekurangan itulah yang menjadikan hidup kita bersama menyenangkan dan memuaskan
Kita harus menerima setiap orang apa adanya…
Mencari yang terbaik dalam diri mereka…

Rekan-Rekan sesama tempayan yang retak…
Semoga hari kalian menyenangkan….
Jangan lupa mencium wanginya bunga2 di jalur kalian.
(Kiriman Prof Raihan- Alumni 24-74)