Dua puluh thn telah berlalu….
Namun masih terbayang jelas kenangan indah itu…

Suatu malam….
Ibu yang bangun sejak pagi, bekerja keras sepanjang hari, membereskan rumah tanpa pembantu…
Jam tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam untuk ayah yg sangat sederhana berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambal teri dan nasi.

Sayangnya karena mengurusi adik yg merengek, tempe dan telor gorengnya sedikit gosong…
Saya melihat ibu sedikit panik, tapi tidak dapat  berbuat banyak karena minyak gorengnya sudah habis.
Kami menunggu dengan tegang apa reaksi ayah yg pulang kerja…
Pasti sudah capek melihat makan malamnya hanya tempe dan telur gosong.
Luar biasa! ….
Ayah dengan tenang menikmati dan memakan semua yg disiapkan ibu dengan tersenyum, dan bahkan berkata, “Bu terima kasih ya!”
Lalu ayah terus menanyakan kegiatan saya dan adik di sekolah.

Selesai makan masih di meja makan…
Saya mendengar mama meminta maaf karena telor & tempe yang gosong itu…
Yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yg ayah katakan: “Sayang, aku suka telor & tempe yg gosong.”

Sebelum tidur, saya pergi untuk memberikan ciuman selamat tidur kepada ayah..
Saya bertanya apakah ayah benar-benar menyukai telur & tempe gosong?”
Ayah memeluk saya erat dengan kedua lengannya yg kekar…
Ayah berkata, “Anakku, ibu sudah bekerja keras sepanjang hari & dia benar-benar sudah capek, Jadi sepotong telor & tempe yg gosong tdk akan menyakiti siapa pun kok!”

Ini pelajaran yg saya praktekkan di tahun-tahun berikutnya “BELAJAR MENERIMA KESALAHAN ORANG LAIN, adalah satu kunci yg sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yg sehat, bertumbuh & abadi.
Ingatlah emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada…
Selalulah berpikir dewasa mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi pasti ada alsannya sendiri…
Jangnlah kta menjadi orang yang hanya mau dimengerti, tapi tidak mau mengeti orang lain
(Kiriman Safitri)