I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dalam rangka ibadah dari orang yang tertentu dengan sifat atau cara yang tertentu pada waktu tertentu sebagaimana difirmankan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 187 “Dan janganlag kamu campuri mereka itu sedang dalm beri’tikaf dalam masjid”

Malam 25 pukul 10.00 saya berangkat ke masjid At-Tin diantar istri dengan membawa perlengkapan Utama (Al-Qur’an dan beberapa buku) serta perlengkapan pelengkap (kaos panjang, perelatan mandi dan alas untuk tidur). Sepanjang siang menunggu berbuka puasa digunakan untukshalat berjaman,  membaca Al-Qur’an dan buku-buku hingga menjelang buka puasa. Menjelang buka puasa saya membeli dua botol air yang akan digunakan untuk buka puasa (teh manis dingin) serta air putih untuk malam hari. Selesai shalat maghrib berjamaah saya membeli makanan yang banyak tersedia disekitar masjid dibanding antri untuk memperolah makanan untuk berbuka yang disediakan Pengelola masjid.

Shalat magrib, Shalat ‘Isya dan shalat tarawih 23 rakaat berjamaah berlangsung hingga pukul 10.00 malam. Ceramah ba’da tarawih membahas tentang hak wanita yang sangat dihormati dan dilindungi oleh Islam, yaitu (1) Mahar, dan (2) Nafkah ekslusif selain nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Mahar adalah sesuatu yang bernilai sebagai rukun nikah yang diserahkan calon suami kepada istri. Bentuk dan besarnya Mahar merupakan hasil kesepakatan antara kedua mempelai, namun patut diperhatikan bahwa permintaan mahar yang terlalu ringan dapat berarti positif (tidak menghalangi pria dan wanita untuk menyelamatkan diri dari perbuatan zina) namun dapat juga berakibat negati yaitu kesungguhan calon mempelai pria untuk menyediakan mahar yang dianggap bernilai oleh calon mempelai pria serta menjadi salah satu faktor tumbuh suburnya penyimpangan praktek poligami yang dianjurkan sesuai syariat.

Setelah kajian, jamaah beraktifitas sendiri-sendiri seperti membaca Qur’an, berzikir, berdiskusi, membaca buku atau tidur menunggu saat qiyamul lail pukul 2.00 malam. Menjelang pukul 2.00, banyak jamaah baru berdatangan sehingga seluruh ruangan di lantai Dasardan lantai shalat bahkan hingga ke selasar masjid penuh dengan lautan manusia. Jamaah terdiri dari pria dan wanita mulai dari anak-anak hingga dewasa yang datang beri’tikaf sendiri atau rombongan keluarga.

Tepat pukul 2.15 menit Shalat qiyamul lail dimulai dipimpin Imam Masjid. Dengan bacaan yang merdu memecah keheningan malam diselingi isak tangis jamaah manakala ayat menagandung makna yang menyentuh perasaan. Pada rakaat kesebelas (rakaat twerahir witir) Imam membaca doa qunut yang sangat panjang diiringi ucapan Aamiin dan isak tangis jamaah mengadu kepada Sang Pencipta untuk memaafkan dan memberi ampunan terhadap kesalahan dosa yang telah diperbuat, menyayangi orang tua yang telah membesarkan, harapan terhadap anak-anak serta kehidupan dialam kubur dan alam akhirat yang lebih panjang.

Selesai qiyamul lail, jamaah mulai menyantap makanan yang dibawa dari rumah atau mengambil makanan yang dibeli kepada panitia. Saya telah membeli kupon makanan sahur untuk 3 tiga hari (malam 25, 26 dan 27). Selesai sahur, shalat subuh berjamaah tiba dilanjutkan dengan pembacaan Al-Qur’an oleh Imam masjid yang didenagrkan dan diikuti oleh Jamaah, Sebagian jamaah ada yang melanjutkan aktifitas sendiri misalnya membaca qur’an, zikir, melanjutkan istirahat tidur atau pulang.

Rencana untuk melanjutkan malam ke 26 terpaksa batal karena badan terasa sakit hingga istri datang menjemput untuk pulang.

Tidak ingin meyiakan kesempatan mendapatkan berkah malam lailatul qadar, sejak phari jum’at pagi kami sudah beres beres rumah serta menyiapkan bekal untuk kembali i’tikaf malam ke 27 di masjid At-Tin. Setelah shalat jum’at yang kami (saya dan andhika) lakukan di masjid Muhajirin- Pondok Jagung kami (saya, istri, Andhika) berangkat ke masjid At-Tin. Kami mencari posisi di majsid dan Alhamdulillah kami mendapatkan tempat ditepi pembatas antara jamaah ahwan dan ahwat. Alas yang kami bawa digelar untuk sejenak beristirahat menghilangkan lelah setelah beres-beres rumah sambil menghimpun tenaga untuk aktifitas malam.

Kami duduk berdampingan membaca Al-Qur’an, berzikir, bediskusi  dan membaca buku hingga terdengar suara azan magrib tanda dibolehkan berbuka puasa.

 

 

 

Dengan bekal yang dibawa dari rumah kami menyantap makanan dengan lahap diselasar magrib. Berbuka puasa kami lakukan setelah membatalkan puasa dengan teh , kue dan kurma serta shlat magrib berjamaah.

Shalat Isya dan Shalat Tarawih berjamaah telah selesai dan para jamaah melanjutkan acara sendiri-sendiri (membaca Al-Qur’an, berzikir) atau mendengar kajian ba’da tarawih sambil menunggu saat qiyamullail pukul 2.00. Seperti sudah diduga, malam ke 27 jamaah peserta i’tikaf penuh hingga ke selasar masjid sehingga keheningan malam menjadi pecah oleh isak tangsi jamaah disela-sela bacaab ayat al-qur’an dan doa qunut pada saat qiyamul lail oleh Imam.

Selesai sahur dan shalat subuh berjamaan kami pulang dengan terlebih dahulu mampir ke rumah dr Defrizal di rawamangun untuk minta resep penyakit batuk yang sudah lama tidak sembuh-sembuh.