Pada suatu petang seekor dan kerang di dasar laut mengadu mengaduh kepada ibunya… Sebutir pasir tajam bagai sembilu memasuki tubuhnya yang merah dan lembek..
“Anakku…..(kata sang ibu sambil bercucuran air mata) Tuhan tidak memberikan kepada kita bangsa kerang ini sebuah tanganpun, sehinga ibu tak bisa menolongmu.
Sakit sekali, aku tahu anakku. Namun terimalah ini sebagai takdir alam. Jadi, kuatkanlah hatimu, nak. Jangan lagi terlalu lincah.Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu
Tegarkan jiwamu menanggung nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah perutmu. Hanya itu yang bisa engkau perbuat anakku”, bujuk ibunya dengan lembut namun piluSi anak kerang pun mencoba nasihat bundanya…
Ada hasilnya, namun perih pedih tak alang kepalang. Kadang kala,di tengah – tengah erang kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya. Namun tak ada pilihan lain. Ia terus bertahan, dan denganbanyak air mata ia berusaha tegar, mengukuhkan hati, menguatkan jiwa, bertahun-tahun lamanya..

Tanpa disadarinya..
sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya…
Makin lama makin halus…
Kian lama kian bulat…
Rasa sakitpun semakin berkurang. Mutiara juga semakin menjadi… Kini, bahakan sakitnya terasa biasa…
Ketika masanya tiba, sebutir mutiara besar, utuh dan mengkilap, akhirnya terbentuk sempurna

Si anak kerang berhasil mengubah pasir jadi mutiara…
Deritanya berubah menjadi mahkota kemuliaan…
Air matanya kini menjadi harta sangat berharga.
Dirinya sekarang, sebagai bentukan nestapa bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lainnya yang disantap orang di bawah naungan tenda-tenda dipinggir jalan…
Kristal kekecewaan nya kini telah menjadi perhiasan mahal yang bergengsi tinggi

Moral cerita :
Penderitaan adalah lorong transdental untuk menjadikan kerang biasa menjadi kerang luar biasa.
Kesulitan, penderitaan dan kekecewaan dapat mengubah orang biasa menjadi orang luar biasa
(Kiriman Safitri)